Jakarta – Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga ketenangan dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi maupun opini yang beredar terkait isu tahanan politik paska pemberlakuan revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Isu-isu tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang wajar terjadi dalam sistem demokrasi. Oleh karena itu, diperlukan sikap dewasa, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menyikapinya.
“Perbedaan pandangan dan pendapat merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Namun, perbedaan tersebut hendaknya tidak menjadi pemicu perpecahan, konflik, ataupun tindakan yang dapat merugikan kepentingan bersama. Masyarakat diharapkan mampu mengendalikan diri, mengedepankan akal sehat, serta menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan bangsa dalam setiap respons yang disampaikan, baik di ruang publik maupun di media sosial” ucap Fadli dalam wawancaranya kepada media tanggal 30 Januari 2026 di Jakarta
“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih cermat dan kritis dalam menerima serta menyebarkan informasi. Pastikan setiap informasi yang diterima berasal dari sumber yang jelas, resmi, dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hindari menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, maupun narasi yang bersifat provokatif karena dapat memperkeruh suasana dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat” tandas Fadli
Penyampaian aspirasi, kritik, maupun pendapat terhadap kebijakan publik, termasuk terkait isu tahanan politik dan revisi KUHAP, merupakan hak setiap warga negara. Namun demikian, hak tersebut harus dilaksanakan secara santun, damai, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Tindakan anarkis, provokasi, dan kekerasan bukanlah solusi, melainkan justru dapat merugikan diri sendiri serta masyarakat luas.
“Mari bersama-sama menjaga ruang publik, baik secara langsung maupun digital, agar tetap sehat, aman, dan bermartabat. Kedamaian, keamanan, dan persatuan adalah modal utama dalam membangun bangsa dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil serta sejahtera. Dengan sikap saling menghormati, menahan diri dari provokasi, dan mengedepankan kepentingan bersama, kita dapat menghadapi setiap dinamika nasional dengan kepala dingin dan semangat kebersamaan” tutup Fadli





