Jakarta, 10 Mei 2026 – Achmad Baha’ur Rifqi, tokoh muda Nahdlatul Ulama yang saat ini menjabat sebagai Presidium Nasional BEM PTNU, kembali menegaskan komitmennya dalam membangun gerakan mahasiswa yang aktif, kompeten, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional.
Lahir di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada 17 September 1999, Baha dikenal tumbuh dari lingkungan pesantren yang kuat. Alumni Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta tersebut memiliki karakter sederhana, rendah hati, dan dekat dengan kader.
Pengalaman organisasinya terbilang panjang. Ia pernah menjabat sebagai Presiden BEM Universitas Alma Ata Yogyakarta, Sekretaris Nasional BEM PTNU tahun 2022, hingga menjadi Presidium Nasional BEM PTNU periode 2022–2025 dan kembali dipercaya melanjutkan kepemimpinannya pada periode berikutnya. Selain itu, Baha juga aktif di organisasi PMII Komisariat Alma Ata dan menjadi anggota tetap seni bela diri Pagar Nusa NU.
Di bawah kepemimpinannya, BEM PTNU disebut berkembang sebagai salah satu organisasi mahasiswa berbasis Nahdlatul Ulama dengan jaringan kaderisasi yang luas di Indonesia.
Menanggapi dinamika sosial serta berbagai agenda pergerakan mahasiswa sepanjang Mei yang kerap dikenal sebagai “Bulan Pergerakan”, Baha menilai ruang-ruang ekspresi masyarakat merupakan bentuk ketulusan yang lahir dari kecintaan terhadap bangsa.
Menurutnya, berbagai bentuk ekspresi, simbol, lagu hingga kritik harus dipandang melalui semangat gotong royong, kolaborasi, dan solidaritas.
“Ruang-ruang ekspresi yang tumbuh di masyarakat sejatinya adalah ketulusan yang mencerminkan nilai cinta tanah air. Semua itu menjadi tanda bahwa nurani masih bekerja. Ia hadir bukan untuk merusak, melainkan mengingatkan bahwa keadilan tidak bisa dibangun di atas kesunyian,” ujarnya.
Baha juga menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi yang sehat, suara rakyat tidak seharusnya dibungkam, melainkan didengar dan dipertimbangkan sebagai bagian dari proses pembangunan bangsa.
“Meski kritik datang dalam bentuk yang tidak biasa, sejatinya hal itu merupakan bagian dari cinta untuk memperbaiki. Tugas negara bukan melarang ekspresi, melainkan mendengar isi kegelisahan tersebut,” katanya.
Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas sejumlah momentum pergerakan mahasiswa pada bulan Mei, di antaranya Hari Buruh Internasional (1 Mei), Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Kebebasan Pers Sedunia (3 Mei), peringatan wafatnya Marsinah (8 Mei), Tragedi Trisakti (12 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), serta Peringatan Reformasi 1998 (21 Mei).
Di akhir pesannya, Achmad Baha’ur Rifqi mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk terus menjaga semangat persatuan dan perjuangan.
“Jangan tebarkan apa pun selain cinta dan perjuangan. Mari kibarkan Bendera Merah Putih,” tutupnya.





